ARTIKEL ILMIAH ROKOK

on Monday, July 5, 2010

USAHA PENEKANAN KONSUMEN ROKOK DENGAN REGULASI ASPEK TERKAIT SEBAGAI RESPON DARI PERDEBATAN FATWA HARAM ROKOK

Nurona Azizah

Program Studi Ilmu Keperawatan 2008, email: nurona.muslim@ymail.com

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, website: http://www.brawijaya.ac.id

Abstract: Indonesia, including the three largest countries as consumers of cigarettes under the China and India. There are approximately 90 million smokers with 200 thousand smokers die each year. Illegitimate instruction of cigarette can not be released in short term prospect. Associated with contra of illegitimate rules in the near future, it takes several solutions are special rules for smokers. Smokers include compulsory ID cards when purchasing cigarettes. Under 17/20 years of age are prohibited. cigarette tax raised to 50% from 37%. Increased risk of tobacco smuggling can be anticipated by creating a "Densus ATGH (anti tobacco, Go Health). Tobacco replaced with sugar cane land. Change the mindset of society about tobacco dependence on the fate of tobacco workers poured the proceeds from the cigarette tax to generate new jobs. With those solutions, kids and teenager are primary destiny and hoping government, society, president can be participated well.

Keyword: Indonesia, consumer, cigarette, illegitimate rule, special rule


Indonesia termasuk 3 negara terbesar sebagai konsumen rokok dibawah China dan India. Terdapat sekitar 90 juta perokok dengan 200 ribu perokok meninggal setiap tahun. Polemik terkait rokok terus bergulir. Fatwa haram rokok yang dikeluarkan oleh Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah dinilai tidak efektif dilihat dari kaca mata realitas dalam 30 terakhir ini. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara jelas menyetujui pembangunan pabrik rokok Sampoerna di Pacitan yang dimiliki oleh Phillip Morris. Pemerintah membuat round map dalam waktu 30 tahun ke depan akan berfokus pada masalah cukai rokok. Keterkungkungan asumsi salah mayoritas masyarakat tentang ketergantungan rokok terhadap cukai yang disinyalir mencapai Rp 55,6 triliun pertahun dan masih belum dikategorikan dari pajak penghasilan perusahaan. Beberapa realitas yang ada menyebabkan semakin sulitnya dalam usaha penekanan rokok. Masalah yang diakibatkan oleh peredaran distribusi rokok yang beredar di Indonesia menyebabkan semakin meningkatnya perokok perempuan, usia dini, dan pria. Peredaran iklan rokok yang menggambarkan dimensi remaja secara unik yang terkenal dengan social-investasi tidak lepas dalam menjerat perokok remaja dalam skala besar. Disamping itu tidak ada syarat-syarat khusus membeli rokok mengakibatkan perokok usia dini tidak dapat ditekan dan setiap tahun meningkat. Dengan beberapa masalah tersebut, hal ini membuat rokok bebas dikonsumsi. Dalam area ekonomi, jelas perusahaan elit rokok membuat alasan-alasan yang sekiranya benar dalam usaha penurunan cukai. Cukai di Indonesia dinilai oleh pengusaha rokok dapat menaikkan smuggling tobacco yang akan merugikan Indonesia dalam skala besar. Di lain pihak, pengusaha rokok dan pemerintah secara gamblang jika fatwa haram rokok dapat menaikkan jumlah PHK bagi pekerja yang berkaitan dengan rokok (petani, pedagang tembakau, angkutan, pekerja pabrik, penjual retail, pejual asongan, buruk rokok) yang diestimasi mencapai 6,1 juta jiwa.

Problema diatas akan terlihat lebih ringan jika presiden tegas dalam mengambil pijakan. Bukti presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak tegas dalam mengambil langkah yaitu dalam FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Indonesia salah satu pembuat draft FCTP, namun Indonesia belum meratifikasi FCTC terkait pembatasan tembakau. Hingga saat ini 200 negara telah menyetujui FCTC dan 36 negara belum, salah satunya Indonesia. Alasan klasik yang dinyatakan oleh presiden kita karena rokok merupakan aspek yang paling cepat menyerap tenaga kerja. Dengan demikian dilihat dari aspek ini, usaha dalam penekanan produksi rokok tidak dapat direalisasikan. Dalam penyelesaian masalah terkait peningkatan perokok dini dan usia muda, dapat dilakukan dengan KTP. Perlu diadakan aturan yang tegas dalam menekan perokok yaitu dengan menyerahkan KTP saat membeli rokok. Rokok diharamkan untuk usia dibawah 20 tahun dengan sangsi-sangsi yang ada. Dengan demikian aturan fatwa haram lebih sesuai untuk ditujukan pada anak-anak karena perokok aktif sulit untuk berhenti dalam waktu yang singkat berkaitan dengan ketergantungan akan nikotin dalam rokok. Sedangkan dalam sisi biro periklanan, kesadaran akan ancaman rokok terhadap generasi muda merupakan prioritas. Pemberian seminar-seminar gratis untuk biro periklanan merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan. Dengan adanya seminar-seminar dengan tujuan menyadarkan biro periklanan, kemungkinan besar realisasi pemblokiran iklan televisi maupun jenis publikasi lainnya terkait rokok dapat diblokir 100%. Disamping itu, perlu adanya aturan tambahan tentang larangan iklan rokok. Aspek lain yang penting adalah “system pemungutan cukai’. Menaikkan tarif cukai tetap merupakan solusi dari penekanan konsumen rokok tanpa mengenyampingkan resiko tobacco smuggling. Kemudian pada puncak kontra haram rokok adalah ketakutan akan hilangnya pekerjaan yang diestimasi 6,1 juta jiwa. Solusi disini adalah dengan mencari alternatif dari tanaman tembakau, misalnya tebu. World Bank menyatakan jika semua perusahaan rokok gulung tikar tidak akan terjadi pengangguran berarti karena masih banyak lapangan pekerjaan. Namun ketakutan melihat masa depan yang seharusnya tidak perlu dibutuhkan menjadi budaya para pekerja yang terjerat dengan rokok.

KTP UNTUK ROKOK

Diperlukan aturan khusus dalam usaha menyupresi jumlah rokok. Dengan diberlakukan KTP untuk rokok, yaitu setiap orang yang akan membeli rokok wajib menyerahkan KTP. Regulasinya adanya dibawah usia 17-20 tahun dilakukan pelarangan rokok. Pemerintah harus memberikan sanksi-sanksi yang membuat perokok usia dini tidak akan melakukan tindakan sama. Salah satunya adalah menggambarkan gambar-gambar penyakit paru, penyakit jantung, penyakit mulut akibat rokok. Pemberian edukasi tetap diperlukan. Disisi lain, menjelaskan perihal iklan rokok yang sedang beredar luas yang secara langsung membuat anak-anak dan usia dini merasa penasaran akan rokok. Edukasi wajib diperlukan untuk orang tua karena peran serta orang tua tidak dapat lepas dari niat berhenti dari rokok.

Aturan KTP untuk rokok bukan perkara mudah dalam realisasinya, perlunya kesadaran penjual rokok, perlunya intervensi dari pemerintah, dan perlunya peningkatan edukasi.

IKLAN ROKOK MENJERAT ANAK-ANAK

Gambar 1: contoh iklan rokok

Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Seto Mulyadi menilai, industri rokok semakin gencar dalam menjerat anak-anak dengan menggunakan segala cara yang sistematis, di antaranya lewat iklan. Rokok yang sebenarnya merugikan dengan 200 bahan kimia seperti dianalogikan dengan kejantanan, persepsi gaul, dan keren jika merokok.

Perusahaan rokok berdalih telah melakukan apa yang telah diatur, misalnya tidak menayangkan rokok dalam wujud sebenarnya. Disisi lain, produsen rokok berdalih jika iklan yang dibuat tidak untuk menjerat anak-anak, namun terbatas untuk perokok pada umumnya. Pernyataan semacam ini merupakan pernyataan yang klasik karena berdasarkan studi iklan-iklan rokok yang dikemas dalam hal menarik, social, dan kemasakinian secara gambling menjerumuskan remaja dan anak-anak. Penyebabnya adalah masa pubertas dimana rasa keingintahuan yang sangat tinggi dan terjadinya suatu krisis identitas. Jika iklan rokok dibalut dengan stylish yang sungguh menarik, anak-anak dan remaja dapat terjerumus dengan mudah.

Fenomena kuatnya pengaruh iklan terhadap perilaku merokok khususnya kalangan remaja juga telah diperlihatkan hasil survey yang dilakukan Koalisi Untuk Indonesia Sehat (KuIS) pada akhir 2007 lalu.

Terdapat survey terhadap 3040 wanita dengan kelompok usia 13-25, 16-19, dan 20-25 tahun di Jakarta dan Sumatera Barat tampak bahwa hampir 50 persen partisipan mengaku melihat hal-hal yang mempengaruhi keputusan merokok dalam satu bulan terakhir. Tercatat 92 persen remaja putri melihat iklan rokok melalui tayangan televisi, sedangkan 70,63 persen melalui poster. Sebanyak 70 persen wanita muda kerap melihat promosi rokok pada pentas acara musik, olahraga dan kegiatan sosial lainnya. Hal ini merupakan bukti atas bebasnya pembuatan iklan, sehingga pemblokiran iklan wajib dilakukan. Pada tahun 2010, hanya 3 negara yang melegalkan iklan rokok yaitu Nigeria, Guinea, dan Indonesia.

Masalah yang tiada henti mengenai perusahaan periklanan di Indonesia sendiri. Biro periklanan merupakan salah satu pihak yang kontra akan pemblokan iklan rokok. Dinyatakan oleh biro iklan jika keuntungan dari iklan rokok tergolong besar sehingga. Pernyataan tersebut kurang berasalan. Biro iklan yang kontra akan pemblokiran iklan rokok bertujuan untuk mengeruk keuntungan yang besar. Karena realitasnya, tanpa iklan rokok bisnis periklanan tetap berjalan baik. Pendapatan biro iklan terbesar di Indonesia adalah kosmetik, makanan, minuman. Rokok hanya menyumbang 7% keuntungan biro iklan. Dengan dilakukan pemblokiran iklan rokok tidak akan membuat biro iklan bangkrut. Karena itu perlu diberikan regulasi baru dalam publikasi.

PROGRAM PENAIKAN CUKAI

Philip Morris selaku pemilik Sampoerna menyatakan jika dengan peningkatan cukai dapat menaikkan angka kejadian penyelundupan tembakau yang merugikan negara. Nyatanya cukai rokok di Indonesia membantu APBN sebesar 7% sedangkan di negara lain hanya 1%. Program penaikan cukai di Indonesia telah membuat sedikitnya 1800 perusahaan rokok gulung tikar. Cukai rokok jika dianalogikan sebagai investasi yang wajib dilindungi dan ditingkatkan di Indonesia.

Pernyataan diatas sebenarnya kurang berasalan. Penaikan cukai rokok memang akan meningkatkan penyelundupan tembakau, namun kerugian yang didapat pemerintah akan lebih besar dari biaya kesehatan yang harus ditanggung terkait peningkatan penyakit daripada kerugian yang didapat dari penyelundupan rokok. Cukai di Indonesia masih tergolong rendah yaitu berkisar 37%. Dibandingkan dengan Thailand 63%, Malaysia 49-57 persen, Philippines 46-49 persen, dan Vietnam 45 persen.

Penaikan cukai berkesinambungan dengan naiknya harga rokok. Naiknya harga rokok secara lambat akan menekan konsumen rokok, misalnya dari 12 batang per hari menjadi 5 batang per hari dan akan mengalami progresi penurunan selama cukai terus dinaikkan. Semakin naik harga rokok akan semakin menekan konsumen hingga akhirnya perokok tidak mampu membeli rokok lagi. Hal ini berhubungan dengan pengurangan konsumsi rokok berkaitan dengan penurunan ketergantungan akan nikotin hingga dapat ditekan 100%.

DENSUS ATGH

DENSUS ATGH adalah DENSUS Anti Tobacco, Go Health yang system operasinya terkait dengan penyelundupan. Dalam suatu penyelundupan terdapat beberapa tahap dan setiap tahap itu perlu adanya system baru yaitu dengan membentuk DENSUS ATGH. System kerjanya diharapkan dapat menekan jumlah pelaku tobacco smuggling sehingga kerugian yang didapat dapat ditekan.

ALTERNATIF ATAS TINDAKAN PELARANGAN TEMBAKAU

Pengangguran akan meningkat tajam jika industry rokok ditutup. Pernyataan diatas kurang tepat berdasarkan studi yang dilakukan oleh Bank Dunia. Bank Dunia mengetimasi jika seluruh industry rokok ditutup, pada umumnya pengangguran tidak perlu terjadi. Kedua pernyataan pro dan kontra ini tidak dapat diterima mentah-mentah. Diperlukan adanya alternative dan usaha untuk merubah paradigma yang sudah ada.

Secara realitas, yang diuntungkan dari tembakau bukan petani maupun buruh rokok namun golongan atas. Petani tembakau penghasilannya lebih sedikit dari yang diterima oleh petani tebu. Keyakinan seperti ini perlu diedukasikan secara intensif bagi petani jika tebu merupakan alternative terbaik untuk meningkatkan penghasilan petani.

Sektor buruh pabrik merupakan masalah utama yang harus dihadapi. Salah satu alas an kontra akan fatwa haram rokok karena ketakutan akan meningkatnya jumlah pengangguran buruh rokok. Namun masalah ini tidak akan berakhir jika usaha untuk merubah atau usaha untuk mencari alternative yang intensif tidak dilakukan.

Tanaman tebu merupakan tanaman yang cocok sebagai lahan alih tembakau. Laba yang diperoleh lebih besar dari petani tembakau. Problema dari petani tembakau ternyata bukan terletak pada segi ekonomi saja melainkan dalam segi keturunan yang diberikan secara turun-temurun. Untuk itu diperlukan edukasi yang lebih dalam memantapkan niat petani untuk bertani alih dari tembakau menuju tebu.

Prospek buruh pabrik jika perusahaan ditutup sangat bergantung dengan pemerintah dan pengusaha rokok. Diperlukan adanya regulasi ulang untuk member waktu lebih terkait dengan pengembangan, penggalian minat dan bakat dengan prospeknya ke pekerjaan. Pemerintah secara tegas wajib membuat aturan untuk produsen rokok supaya berkewajiban memberi waktu luang buruh pabrik untuk meningkatkan bisangnya, misalnya diadakan dua kali seminggu. Disamping itu, hasil dari penaikan cukai dalam waktu beberapa tahun digunakan untuk membangun usaha-usaha bagi buruh rokok. Dalam 10 tahun terakhir, kemungkinan besar rencana dapat terealisasi.

KESIMPULAN

Diperlukan langkah tegas berupa regulasi pada aspek terkait. KTP untuk rokok merupakan salah satu aturan untuk menekan perokok usia dini. Diharapkan pemerintah berperan aktif dalam menggalakkan aturan ini. Peningkatan cukai tetap dilakukan terkait dengan persiapan untuk membangun usaha-usaha yang akan digunakan pada buruh rokok yang nantinya berhenti. Resiko penggelapan tembakau akibat penaikan cukai dapat dilakukan dengan membentuk DENSUS ATGH. Iklan rokok wajib dihapus berhubungan dengan kemampuan dalam menjerat anak-anak dan remaja untuk mengonsumsi rokok. Kemudian alternative lain adalah dengan menggunakan tanaman alih tembakau yaitu tebu, karena penghasilan petani tebu lebih besar dari petani tembakau. Kesuksesan regulasi ini tidak lepas dari intervensi antara pemerintah, rakyat, dan kesadaran bersama demi mewujudkan Indonesia Sehat Menuju Masa Depan Cerah.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.kompas .com.


1 comments:

Anonymous said...

emang tulisan lo cukup bagus tapi buat ke realitas non. sulit. coba deh lo buat artikel yang bagus kaya gitu tapi bisa diwujudkan getoh. okeh, salut buat lo

Post a Comment

Good and Bad comments are my feed...Please ^^'